Suasana pagi di Perpustakaan Daerah Kota Bontang tampak lebih hidup dari biasanya. Senin, 5 Mei 2026, deretan kursi yang tersusun rapi mulai terisi oleh para peserta yang datang dengan semangat baru. Mereka adalah pustakawan dari berbagai jenjang pendidikan—SD, MI, SMP, hingga SMA swasta di Kota Bontang—yang siap mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Strategi Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Menuju Akreditasi Nasional.”
Di antara peserta, tampak tim dari MI TQ Darul Furqon yang terdiri atas seorang pustakawan dan satu guru pendamping. Kehadiran mereka mencerminkan keseriusan sekolah dalam membangun kualitas perpustakaan sebagai pusat literasi. Dengan membawa catatan kecil dan rasa ingin tahu yang besar, mereka duduk menyimak pembukaan kegiatan yang akan berlangsung selama dua hari, hingga Selasa, 6 Mei 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa. Sejak sesi pertama dimulai, peserta langsung diajak memahami arah kebijakan standar nasional perpustakaan. Pemateri menjelaskan bahwa perpustakaan sekolah kini tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan buku, melainkan ruang belajar yang aktif, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Memasuki materi berikutnya, pembahasan beralih pada pengelolaan koleksi perpustakaan untuk jenjang SD dan SMP. Peserta diajak melihat bagaimana memilih bahan pustaka yang relevan dengan kebutuhan siswa, sekaligus mendukung kurikulum. Diskusi berlangsung interaktif, dengan beberapa peserta berbagi pengalaman tentang tantangan keterbatasan koleksi di sekolah masing-masing.
Tak kalah penting, materi tentang sarana dan prasarana membuka wawasan baru. Perpustakaan ideal tidak harus mewah, tetapi harus nyaman, tertata, dan ramah bagi siswa. Hal ini diperkuat dengan sesi pelayanan perpustakaan yang menekankan pentingnya sikap pustakawan dalam menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan.
Hari pertama ditutup dengan pembahasan tenaga perpustakaan dan manajemen pengelolaan yang efektif. Sementara itu, hari kedua dijadwalkan akan membahas lebih teknis, seperti pengelolaan bahan pustaka melalui katalogisasi dan klasifikasi, hingga strategi promosi perpustakaan serta layanan inklusi.
Bagi para peserta, bimtek ini menjadi ruang refleksi sekaligus motivasi. Di tengah tantangan era digital, perpustakaan sekolah tetap memiliki peran penting sebagai jantung literasi. Dari Bontang, semangat itu tumbuh—pelan namun pasti—melalui langkah kecil para pustakawan dan guru yang ingin membawa perpustakaan sekolah menuju standar nasional yang lebih baik.


إرسال تعليق